Ketika malam,
anak kecil itu merenung langit hitam ,
memandang sedalam dalam
dia mencari kejora dalam kelam,
dia mengintai purnama dalam suram,
puas dia menanti,
namun bahtera harapannya kian karam,
cahaya kejora dan purnama itu semakin tenggelam.

dia menanti lagi,
hadirnya siang ditemani mentari,
mengharapkan sang suria menghadiahkannya senyuman pagi,
puas dia menanti,
namun,si gerimis pula yang hadir mengganti,
lalu tertunduk dia,
menyeka air mata di pipi.

hari-hari yang berlalu,
dirasakan terlalu sayu,
sang angin menyapa mengirimkan khabar pilu,
di pandang kanan dan kiri,
timbunan runtuhan batu, kerikil dan kayu,
dibedil, dimamah, diratah oleh peluru.

laskar angkuh itu tidak punya rasa malu,
rumah, masjid, sekolah diceroboh,
nyawa tidak pernah puas-puas diburu,
anak-anak terkulai layu dalam pelukan ibu,
bergelimpangan tubuh terkujur kaku.

ada tangisan, tak siapa dengari,
ada rintihan , hanya dipandang sepi,
ada kesakitan, tiada siapa peduli,
ada saudara , kanan dan kiri,
yang punya hati, tapi mati,
yang punya telinga, tapi tuli,
yang punya mata, tapi hanya mampu menyaksi,
mungkar yang beraja di sana dan sini,
bagai tiada nuraga nun di hati.

tiada lagi kedengaran kicauan burung,
bumi disimbah darah, langit semakin mendung,
kilat dan guruh sabung menyabung,
palestin terus menangis dan berkabung,
tiada daya lagi untuk berselindung.

wahai INSAN,
sampai bilakah mereka harus membendung?
derita dunia yang tiada tertanggung.

wahai INSAN,
sampai bilakah kita harus duduk termenung?
bagai menanti kesudahan yang tiada berkunjung.

wahai INSAN,
sungguh, mereka perlukan kita,
untuk terus menyokong dan menyokong,
dalam pertempuran syahid yang agung,
keramat INTIFADA terus dilaung,
biar terpaksa merangkak dalam sempitnya lorong,
demi meraih syurga yang terulung.

halawatul iman,
Warna-warni muslimah Sheffield 2009
Norfolk Heritage Park
music by: Caravansary- Kitaro